GAP GAME ARCHIVE PROJECT

Prince of Persia: The Sands of Time (2003)

Mahakarya Dongeng Ubisoft Montreal yang Memadukan Akrobat Dinding dan Pemutar Balik Waktu

Canada · 2003 · game

Prince of Persia: The Sands of Time adalah gim aksi-petualangan tahun 2003 yang disutradarai Patrice Désilets, diproduseri Yannis Mallat, dan ditulis pencipta aslinya Jordan Mechner di Ubisoft Montreal dengan PlayStation 2 sebagai platform utama. Mengawinkan parkour arsitektural di istana Azad dengan mekanik pemutar balik waktu nyata lewat Dagger of Time, gim ini merombak penjelajahan 3D dan melahirkan fondasi Assassin's Creed.

Prince of Persia: The Sands of Time (2003)

Menghidupkan Kembali Klasik Jordan Mechner di Istana Azad

Menyusul kegagalan komersial Prince of Persia 3D pada 1999, Ubisoft mempercayakan kebangkitan seri ini kepada tim muda Ubisoft Montreal pimpinan sutradara Patrice Désilets dan produser Yannis Mallat. Terpikat oleh purwarupa gerak berirama mereka, pencipta gim asli tahun 1989 Jordan Mechner bergabung sebagai penulis naskah dan membingkai petualangannya bagai dongeng Seribu Satu Malam yang dituturkan dalam bentuk lampau oleh sang Pangeran muda (diisi suara Yuri Lowenthal). Tertipu oleh Wazir licik hingga menusuk Jam Pasir Waktu dan mengubah penghuni istana Azad menjadi monster pasir, sang Pangeran bertumbuh dewasa bersama putri pemanah Farah — bahkan menyangkal kematian pemain dengan ucapan 'Tidak, bukan begitu kejadiannya.'

Parkour Arsitektural, Belati Waktu, dan Warisan Industri

Bekerja memakai mesin Jade milik Ubisoft — yang juga menopang Beyond Good and Evil — Désilets menyulap pelataran Persia megah, pemandian kerajaan, serta menara astrolab menjadi teka-teki ruang yang mudah dibaca: sang Pangeran berlari menyamping di dinding tegak, memantul di celah sempit, berayun di tiang bendera, dan melompati kawanan makhluk pasir sebelum menyerap intisarinya. Terobosan terbesarnya, Dagger of Time memampukan pemain memutar ulang waktu hingga sepuluh detik secara langsung, menghapus rasa frustrasi jebakan mati seketika sekaligus memicu keberanian bereksperimen. Diiringi musik perpaduan rock dan instrumen Timur Tengah gubahan Stuart Chatwood, mahakarya ini mengangkat reputasi global Ubisoft Montreal dan menginspirasi Assassin's Creed.

Verification Sources