GAP GAME ARCHIVE PROJECT

Divinity II: Ego Draconis (2009)

RPG Aksi Orang Ketiga Larian Studios dengan Pembaca Pikiran dan Perubahan Wujud Naga

Belgium · 2009 · game

Divinity II: Ego Draconis adalah gim RPG aksi 3D orang ketiga tahun 2009 arahan Swen Vincke di Larian Studios. Menempatkan pemain sebagai calon Pembasmi Naga yang menyerap jiwa naga sekarat Talana hingga menjadi Ksatria Naga terakhir Rivellon, gim ini menonjol lewat mekanika Membaca Pikiran berbiaya poin pengalaman, markas Menara Tempur, serta terbang bebas berwujud naga.

Divinity II: Ego Draconis (2009)

Membaca Pikiran, Menara Tempur Pulau Sentinel, dan Pertempuran Udara Naga

Beralih dari kamera isometrik ke sudut pandang 3D belakang bahu menggunakan mesin Gamebryo, Divinity II dibuka di Broken Valley saat prajurit muda Pembasmi Naga menyerap ingatan naga sekarat Talana hingga seketika diburu mantan rekan seperjuangannya sembari menghadapi musuh abadi Lucian, Damian. Hampir setiap warga bernama di Rivellon menyimpan isi kepala tersembunyi: mengorbankan poin pengalaman demi Membaca Pikiran mampu membongkar sandi brankas, menangkap basah pemberi misi penipu, menurunkan harga toko, atau memberi peningkatan keahlian gratis. Di pertengahan cerita, pemain merebut Menara Tempur kuno di Pulau Sentinel—mempekerjakan ahli nujum perakit monster pendamping kustom—serta melompat dari tebing untuk langsung berubah wujud menjadi naga penyembur api.

Penebusan Lewat Flames of Vengeance dan Jalan Kemandirian Penerbitan Larian

Terdesak tenggat ketat penerbit Jerman dtp entertainment serta kendala sertifikasi Xbox 360, rilis awal Ego Draconis tahun 2009 meluncur dengan keseimbangan tempur timpang serta akhir cerita menggantung kelam di Hall of Echoes. Menolak membiarkan dunia 3D paling ambisius mereka terbengkalai, Swen Vincke bersama tim Larian menghabiskan setahun penuh merombak pencahayaan, kelancaran bingkai, serta fisika proyektil sembari menulis babak penutup Flames of Vengeance yang kembali diiringi komposisi Kirill Pokrovsky. Dirilis ulang secara utuh pada 2010 sebagai The Dragon Knight Saga, keberhasilan penebusan ini meyakinkan Vincke bahwa Larian wajib memegang kendali penerbitan mandiri sepenuhnya atas seluruh karya masa depan.

Verification Sources