GAP GAME ARCHIVE PROJECT

Pamali: Indonesian Folklore Horror (2018)

Antologi Horor Folklor Episodik Sudut Pandang Orang Pertama Berbasis Pelacakan Pantangan Adat

Indonesia · 2018 · game

Dikembangkan oleh studio independen asal Bandung, StoryTale Studios, dan dirilis pada Desember 2018, Pamali: Indonesian Folklore Horror adalah antologi horor sudut pandang orang pertama empat bagian yang menerjemahkan pantangan adat Jawa, Sunda, dan Bali (pamali) ke dalam arsitektur pilihan lingkungan interaktif dengan lebih dari tiga puluh lima cabang akhir cerita.

Pamali: Indonesian Folklore Horror (2018)

Perancangan Gim Antropologis dan Mesin Status Berbasis Pantangan

Disutradarai oleh Teddy Setiawan di StoryTale Studios, Bandung setelah kampanye urun dana dan pameran prototipe pada tahun 2018, Pamali: Indonesian Folklore Horror mengambil pendekatan yang berbeda dari pakem horor penyintas berorientasi aksi—seperti yang sebelumnya dipopulerkan oleh DreadOut (2014) karya Digital Happiness—dengan menjadikan tata krama vernakular serta larangan sosial tak tertulis sebagai mekanika utama permainan. Dalam berbagai bahasa daerah di kepulauan Indonesia, istilah pamali merujuk pada pantangan perilaku yang diwariskan secara lisan lintas generasi dan diyakini dapat menimbulkan gangguan supranatural apabila dilanggar. Alih-alih mengarahkan pemain melewati rangkaian kejutan linear, setiap bab menempatkan protagonis di dalam ruang arsitektur sehari-hari—rumah warisan keluarga yang terbengkalai, pemakaman pedesaan, kediaman bangsawan, atau rumah masa kecil—di mana hampir setiap benda rumah tangga dapat diperiksa, dibersihkan, diambil, dirusak, atau diabaikan. Mesin status di latar belakang secara senyap mencatat kepatuhan atau pelanggaran pemain terhadap norma adat, lalu menyusun laporan etnografis pada akhir sesi yang merinci pantangan apa saja yang dilanggar di antara lebih dari tiga puluh lima cabang akhir cerita.

Taksonomi Folklor Episodik dan Kajian Horor Internasional

Dirancang sebagai antologi empat bagian yang dirilis antara Desember 2018 hingga akhir 2019, karya ini mengatalogkan entitas folklor regional secara sistematis. Bab pertama, The White Lady (Kuntilanak), menyoroti duka domestik dan sengketa warisan; The Tied Corpse (Pocong) menempatkan seorang penjaga makam dalam tanggung jawab tata cara penguburan di mana kelalaian membuka ikatan kain kafan memicu konsekuensi spektral; The Little Devil (Tuyul) mengangkat tema akumulasi kekayaan dan perjanjian gaib dalam keluarga tradisional Jawa; sedangkan The Hungry Witch (Leak) beralih ke kepercayaan esoteris Bali mengenai transformasi raga. Dalam kajian gim internasional, Pamali kerap dianalisis bersama Detention (2017) dan Devotion (2019) karya studio Taiwan Red Candle Games sebagai representasi 'folk horror' Asia yang menggantikan klise gotik Barat dengan akustik arsitektur lokal, benda ritual, dan etika domestik, serta kemudian diadaptasi menjadi dua film layar lebar oleh Lyto Pictures pada tahun 2022 dan 2023.

Verification Sources