Usaha Penyewaan PlayStation di Indonesia (Rental PS, 1997)
Usaha Mikro Konsol Lingkungan Pasca-Krisis Moneter yang Memperluas Akses Permainan Generasi Kelima dan Keenam di Indonesia
Menjamur di berbagai kota dan kabupaten di Indonesia menyusul krisis finansial Asia 1997–1998, usaha penyewaan PlayStation lingkungan (Rental PS) memadukan televisi tabung katoda dengan konsol Sony PlayStation serta PlayStation 2 bermodchip yang disewakan per jam, menjadikan Winning Eleven, Crash Team Racing, dan Tekken 3 sebagai ritual sosial komunal.
Guncangan Ekonomi Makro 1997–1998 dan Infrastruktur Usaha Mikro
Meluasnya ruang penyewaan konsol yang dikenal secara umum di Indonesia dengan sebutan Rental PS berkaitan erat dengan guncangan ekonomi makro akibat krisis finansial Asia 1997–1998 atau Krisis Moneter (Krismon). Ketika nilai tukar rupiah merosot lebih dari tujuh puluh persen terhadap dolar Amerika Serikat, harga beli konsol impor generasi kelima melonjak melampaui daya jangkau kepemilikan pribadi rumah tangga kelas pekerja maupun kelas menengah di Indonesia. Pada saat bersamaan, gelombang pemutusan hubungan kerja di Jakarta, Surabaya, Bandung, Medan, dan Yogyakarta mendorong mantan pekerja kantoran serta pedagang kecil mengalihkan uang pesangon ke usaha mikro rumahan berbiaya operasional rendah. Dengan menyulap teras rumah, garasi, atau petak ruko sempit menjadi ruang berisi empat hingga dua belas unit konsol, pengelola memasangkan televisi tabung berukuran empat belas hingga dua puluh satu inci, bangku kayu panjang, dan kipas angin dengan unit Sony PlayStation seri SCPH ber-modchip optik dari sentra niaga seperti Glodok di Jakarta. Tarif sewa Rp1.000 hingga Rp3.000 per jam yang dicatat manual di buku tulis bergaris—ditambah penjualan teh botol serta mi instan—memungkinkan pengembalian modal perangkat keras berlangsung cepat.
Budaya Komunal Winning Eleven, Kartu Memori Pribadi, dan Era PS2
Rendahnya harga keping cakram optik salinan di pasar informal membuat setiap gerai Rental PS sanggup menyediakan map tebal berisi puluhan judul keluaran Jepang maupun Barat sembari memusatkan interaksi harian pada pertandingan multipemain tatap muka. Simulasi sepak bola Winning Eleven besutan Konami menempati posisi sentral di hampir seluruh bilik sewa di Indonesia, melahirkan turnamen antargang akhir pekan, kesepakatan tak tertulis yang melarang penempatan bek sayap Brasil Roberto Carlos sebagai penyerang tengah karena atribut larinya, hingga peredaran cakram modifikasi komunitas pada masa PlayStation 2 yang mengganti klub Eropa dengan peserta Liga Bank Mandiri atau Liga Djarum lengkap bersama komentator berbahasa Indonesia. Selain sepak bola, Crash Team Racing, Tekken 3, Vigilante 8, dan Twisted Metal mendominasi permainan kelompok, sedangkan pelanggan permainan tunggal membawa kartu memori pribadi berkapasitas lima belas blok atau delapan megabita di saku celana guna melanjutkan rekaman progres Harvest Moon: Back to Nature, Final Fantasy, Suikoden II, serta Grand Theft Auto: San Andreas dari satu tempat sewa ke tempat lainnya hingga akhir dekade 2000-an.